MAXIM MARMUR/AFP Michael Kalashnikov
dan senjata varian modern AK-47 yang dia rancang.
AK-47 ( Avtomat Kalashnikov tahun 1947 )
MOSKWA, KOMPAS.com — Mikhail Kalashnikov, pencipta senapan serbu legendaris
AK-47, ternyata menanggung beban dosa selama hidupnya. Menjelang akhir
hayatnya, Kalashnikov, yang menganut Kristen Ortodoks, mengaku takut berdosa
atas kematian semua orang yang diakibatkan senjata ciptaannya itu.
Kalashnikov, yang meninggal dunia Desember lalu pada usia 94 tahun, pada April tahun lalu menulis sebuah surat panjang penuh emosi kepada Patriach Kirill, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia. Demikian harian pro-Kremlin Izvestia mengabarkan, Senin (13/1/2014).
"Rasa sakit dalam jiwa saya tak tertahankan. Saya terus mencari jawaban untuk satu pertanyaan: jika senjata ciptaan saya mencabut nyawa seseorang, apakah saya berdosa atas kematian orang itu, bahkan jika orang itu adalah musuh?" ujar Kalashnikov dalam suratnya.
Surat yang diketik di atas kertas surat pribadi Kalashnikov tersebut ditandangani langsung pria yang menyebut dirinya adalah "budak" Tuhan itu.
Sekretaris pers Patriakh Kirill, Alexander Volkov, mengatakan, Gereja Ortodoks Rusia memang telah menerima surat dari Kalashnikov itu dan sudah membalasnya secara pribadi.
"Gereja memiliki posisi yang pasti: saat senjata digunakan untuk membela tanah air, maka Gereja mendukung baik pembuat maupun serdadu yang menggunakan senjata itu," ujar Volkov.
"Dia (Kalashnikov) membuat senjata itu untuk mempertahankan negara ini dari musuh, bukan untuk digunakan teroris," tambah Volkov.
Kalashnikov, yang pemakamannya dihadiri Presiden Vladimir Putin, menciptakan sebuah senapan serbu yang sederhana dan terbukti tangguh saat digunakan Tentara Merah dalam Perang Dunia II.
Kini, AK-47 merupakan senjata serbu yang paling banyak diproduksi di dunia secara legal maupun ilegal. Bahkan kini AK-47 menjadi salah satu senjata yang banyak digunakan kelompok pemberontak hingga teroris.
Kalashnikov, yang meninggal dunia Desember lalu pada usia 94 tahun, pada April tahun lalu menulis sebuah surat panjang penuh emosi kepada Patriach Kirill, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia. Demikian harian pro-Kremlin Izvestia mengabarkan, Senin (13/1/2014).
"Rasa sakit dalam jiwa saya tak tertahankan. Saya terus mencari jawaban untuk satu pertanyaan: jika senjata ciptaan saya mencabut nyawa seseorang, apakah saya berdosa atas kematian orang itu, bahkan jika orang itu adalah musuh?" ujar Kalashnikov dalam suratnya.
Surat yang diketik di atas kertas surat pribadi Kalashnikov tersebut ditandangani langsung pria yang menyebut dirinya adalah "budak" Tuhan itu.
Sekretaris pers Patriakh Kirill, Alexander Volkov, mengatakan, Gereja Ortodoks Rusia memang telah menerima surat dari Kalashnikov itu dan sudah membalasnya secara pribadi.
"Gereja memiliki posisi yang pasti: saat senjata digunakan untuk membela tanah air, maka Gereja mendukung baik pembuat maupun serdadu yang menggunakan senjata itu," ujar Volkov.
"Dia (Kalashnikov) membuat senjata itu untuk mempertahankan negara ini dari musuh, bukan untuk digunakan teroris," tambah Volkov.
Kalashnikov, yang pemakamannya dihadiri Presiden Vladimir Putin, menciptakan sebuah senapan serbu yang sederhana dan terbukti tangguh saat digunakan Tentara Merah dalam Perang Dunia II.
Kini, AK-47 merupakan senjata serbu yang paling banyak diproduksi di dunia secara legal maupun ilegal. Bahkan kini AK-47 menjadi salah satu senjata yang banyak digunakan kelompok pemberontak hingga teroris.
MOSKWA, KOMPAS.com — Mikhail
Kalashnikov, perancang legenda AK-47, senapan otomatis yang menjadi senjata
pilihan di seantero dunia, meninggal
pada usia 94 tahun, Senin (23/12/2013) waktu setempat. Senapan
AK-47 dia rancang saat menjalani cuti karena terluka dalam perang.
Lahir di sebuah desa Siberia sebagai anak ke-17 dari sebuah keluarga pada 10 November 1919, Kalashnikov memiliki masa kecil yang tragis. Ayahnya dideportasi sebagai "kulak" (petani makmur) di bawah diktator Soviet, Joseph Stalin, pada 1930 .
Terluka selama pertempuran berdarah dengan pasukan Nazi di Bryansk pada 1941, Kalashnikov diberi cuti enam bulan. Pada masa cuti itulah dia mendapatkan pemikiran soal versi pertama AK-47.
Atasan Kalashnikov yang melihat bakatnya mendorong karyanya. Pada 1945, rancangan Kalashnikov sudah dibuatkan prototipe untuk kompetisi. Desain yang kemudian direkomendasikan untuk tentara Rusia merupakan rancangan 1947.
Setahun kemudian, Kalashnikov ditugaskan ke pabrik senjata Izmash di Izhevsk, pabrik yang sudah dikenal sejak masa kekaisaran. Dia ditugaskan di bagian produksi senjata.
Senapan rancangan Kalashnikov dengan cepat diakui keandalan dan kekokohannya untuk digunakan bahkan di medan tempur yang sulit.
Selama 205 tahun, pabrik Izmash tetap menjadi salah satu produsen utama senjata Rusia. Perusahaan ini pun menjadi salah satu ikon nasional.
Lebih dari 100 juta senapan Kalashnikov terjual di seluruh dunia yang dilibatkan dalam beragam perang termasuk di Irak, Afganistan, dan Somalia. Bahkan gambar berisi AK-47 dengan fitur bayonet tertera dalam bendera nasional Mozambik.
Lahir di sebuah desa Siberia sebagai anak ke-17 dari sebuah keluarga pada 10 November 1919, Kalashnikov memiliki masa kecil yang tragis. Ayahnya dideportasi sebagai "kulak" (petani makmur) di bawah diktator Soviet, Joseph Stalin, pada 1930 .
Terluka selama pertempuran berdarah dengan pasukan Nazi di Bryansk pada 1941, Kalashnikov diberi cuti enam bulan. Pada masa cuti itulah dia mendapatkan pemikiran soal versi pertama AK-47.
Atasan Kalashnikov yang melihat bakatnya mendorong karyanya. Pada 1945, rancangan Kalashnikov sudah dibuatkan prototipe untuk kompetisi. Desain yang kemudian direkomendasikan untuk tentara Rusia merupakan rancangan 1947.
Setahun kemudian, Kalashnikov ditugaskan ke pabrik senjata Izmash di Izhevsk, pabrik yang sudah dikenal sejak masa kekaisaran. Dia ditugaskan di bagian produksi senjata.
Senapan rancangan Kalashnikov dengan cepat diakui keandalan dan kekokohannya untuk digunakan bahkan di medan tempur yang sulit.
Selama 205 tahun, pabrik Izmash tetap menjadi salah satu produsen utama senjata Rusia. Perusahaan ini pun menjadi salah satu ikon nasional.
Lebih dari 100 juta senapan Kalashnikov terjual di seluruh dunia yang dilibatkan dalam beragam perang termasuk di Irak, Afganistan, dan Somalia. Bahkan gambar berisi AK-47 dengan fitur bayonet tertera dalam bendera nasional Mozambik.
MOSKWA, KOMPAS.com —
Mikhail Kalashnikov, perancang
senapan AK-47, meninggal pada usia 94 tahun, Senin (23/12/2013) waktu
setempat. Senjata rancangannya sudah terjual
lebih dari 100 juta unit, tetapi kekayaan tak menyinggahinya. AK-47 tak
pernah dipatenkan di tataran internasional.
Izmash, pabrik pembuat senapan ini, pun kerap mengeluhkan hilangnya potensi pendapatan pabrik itu karena beredarnya produk bajakan yang dibuat di luar negeri.
Kalashnikov pun nyaris tak pernah mendapatkan keuntungan finansial dari eksploitasi senjata racangannya, dan hidup sederhana di Izhevsk, sebuah kota di kawasan pegunungan Ural berpenduduk sekitar 630.000 orang.
Pabrik Izmash masuk ke masa sulit setelah anjloknya pesanan senapan seusai runtuhnya Uni Soviet. Situasi ini mendorong Kalashnikov melakukan pendekatan pribadi ke Presiden Rusia, Putin.
Pendekatan itu mendatangkan hasil. Pada Agustus 2013, Izmash berganti nama menjadi Kalashnikov, dengan harapan nama itu akan menjaring pelanggan.
Istri Kalashnikov, Yekaterina, meninggal lebih dulu pada 1977. Pasangan ini memiliki empat anak, dengan tiga orang bertahan hidup dan bekerja pada proyek yang tak jauh-jauh dari proyek ayahnya.
Kematian Kalashnikov diumumkan langsung oleh kantor kepresidenan di wilayah Udmurtia, tempat dia tinggal dan bekerja selama ini.
Kalashnikov sudah ibarat pahlawan di negara bekas Uni Soviet, sekalipun senjata rancangannya identik dengan pembunuhan yang bahkan terkesan serampangan. Dia pun menjadi salah satu simbol kebanggaan masa lalu militer Moskwa.
"Dia meninggal di Izhevsk, sebuah kota industri (berjarak), 1.300 kilometer di timur Moskwa," kata Viktor Chulkov, juru bicara pemimpin Udmurtia, Alexander Volkov.
Izmash, pabrik pembuat senapan ini, pun kerap mengeluhkan hilangnya potensi pendapatan pabrik itu karena beredarnya produk bajakan yang dibuat di luar negeri.
Kalashnikov pun nyaris tak pernah mendapatkan keuntungan finansial dari eksploitasi senjata racangannya, dan hidup sederhana di Izhevsk, sebuah kota di kawasan pegunungan Ural berpenduduk sekitar 630.000 orang.
Pabrik Izmash masuk ke masa sulit setelah anjloknya pesanan senapan seusai runtuhnya Uni Soviet. Situasi ini mendorong Kalashnikov melakukan pendekatan pribadi ke Presiden Rusia, Putin.
Pendekatan itu mendatangkan hasil. Pada Agustus 2013, Izmash berganti nama menjadi Kalashnikov, dengan harapan nama itu akan menjaring pelanggan.
Istri Kalashnikov, Yekaterina, meninggal lebih dulu pada 1977. Pasangan ini memiliki empat anak, dengan tiga orang bertahan hidup dan bekerja pada proyek yang tak jauh-jauh dari proyek ayahnya.
Kematian Kalashnikov diumumkan langsung oleh kantor kepresidenan di wilayah Udmurtia, tempat dia tinggal dan bekerja selama ini.
Kalashnikov sudah ibarat pahlawan di negara bekas Uni Soviet, sekalipun senjata rancangannya identik dengan pembunuhan yang bahkan terkesan serampangan. Dia pun menjadi salah satu simbol kebanggaan masa lalu militer Moskwa.
"Dia meninggal di Izhevsk, sebuah kota industri (berjarak), 1.300 kilometer di timur Moskwa," kata Viktor Chulkov, juru bicara pemimpin Udmurtia, Alexander Volkov.
MOSKWA, KOMPAS.com — Mikhail Kalashnikov, perancang senapan AK-47, meninggal pada usia 94 tahun, Senin (23/12/2013) waktu setempat.
Senapan rancangannya bisa jadi sangat populer di dunia, tetapi perancangnya
malah hampir tak mampu sekadar membeli selembar tiket pesawat dari kampungnya
ke Moskwa.
Kalashnikov baru berusia 20 tahun saat mulai merancang AK-47 pada 1941. Dia meninggal di kota kelahiran sekaligus tempat senapan itu masih diproduksi sampai sekarang di Izhevsk, dekat Pegunungan Ural.
Pernyataan Juru Bicara Presiden Provinsi Udmurtia di televisi negara tak menyebutkan penyebab kematian Kalashnikov. Namun, pada Juni 2013 dia menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung di rumah sakit di Moskwa. Kalashnikov juga dikabarkan sudah dirawat di rumah sakit di Izhevsk sejak 17 November 2013.
Kalashnikov adalah anak petani Siberia yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Dia mulai merancang senapan AK-47 saat terluka dalam perang dan harus beristirahat enam bulan pada 1941.
AK-47 merupakan kependekan dari "Avtomat Kalashnikov" atau dalam bahasa Inggris "Automatic Kalashnikov", dengan 47 adalah tahun model final pertamanya dirilis pada 1947.
Angkatan bersenjata dan kepolisian Rusia masih menggunakan AK-47 sebagai senjata resmi sejak 1949. Penghargaan tertinggi di Rusia, Pahlawan Rusia, dengan medali bintang emas, disematkan kepada Kalashnikov pada ulang tahunnya yang ke-90.
Meski bangga dengan penemuannya, Kalashnikov merasa sedih bahwa rancangannya digunakan juga oleh penjahat, bahkan untuk membunuh anak-anak. Senjata yang murah, sederhana, dan tahan segala cuaca ini memang mewarnai hampir setiap konflik senjata di seantero dunia sejak era Perang Dunia II.
Mesin pembunuh efektif
Kalashnikov baru berusia 20 tahun saat mulai merancang AK-47 pada 1941. Dia meninggal di kota kelahiran sekaligus tempat senapan itu masih diproduksi sampai sekarang di Izhevsk, dekat Pegunungan Ural.
Pernyataan Juru Bicara Presiden Provinsi Udmurtia di televisi negara tak menyebutkan penyebab kematian Kalashnikov. Namun, pada Juni 2013 dia menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung di rumah sakit di Moskwa. Kalashnikov juga dikabarkan sudah dirawat di rumah sakit di Izhevsk sejak 17 November 2013.
Kalashnikov adalah anak petani Siberia yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Dia mulai merancang senapan AK-47 saat terluka dalam perang dan harus beristirahat enam bulan pada 1941.
AK-47 merupakan kependekan dari "Avtomat Kalashnikov" atau dalam bahasa Inggris "Automatic Kalashnikov", dengan 47 adalah tahun model final pertamanya dirilis pada 1947.
Angkatan bersenjata dan kepolisian Rusia masih menggunakan AK-47 sebagai senjata resmi sejak 1949. Penghargaan tertinggi di Rusia, Pahlawan Rusia, dengan medali bintang emas, disematkan kepada Kalashnikov pada ulang tahunnya yang ke-90.
Meski bangga dengan penemuannya, Kalashnikov merasa sedih bahwa rancangannya digunakan juga oleh penjahat, bahkan untuk membunuh anak-anak. Senjata yang murah, sederhana, dan tahan segala cuaca ini memang mewarnai hampir setiap konflik senjata di seantero dunia sejak era Perang Dunia II.
Mesin pembunuh efektif
ALEXANDER
JOE / AFP Senapan AK-47 masuk dalam desain bendera negara Mozambik. Gambar
diambil pada 5 Januari 2012.
Pada awalnya, rancangan Kalashnikov
ditanggapi dingin. Perancang senjata yang lebih senior menyebut rancangannya
sebagai pistol primitif buatan sersan muda yang terluka parah dalam perang
dunia kedua.
Namun, pada 1947, rancangan Kalashnikov dipilih otoritas militer Uni Soviet dan didukung oleh perancang senjata yang semula meremehkannya. Dengan kesederhanaannya, senjata ini dinilai andal di medan perang.
"Jadi, ini sudah moto hidup saya, (senjata) yang sederhana dan dapat diandalkan," kata Kalashnikov suatu ketika. Diperkirakan 100 juta AK-47 beredar di dunia, dengan setengah di antaranya adalah barang bajakan.
"Senapan kuat ini ... adalah cara tercepat, termudah, dan termurah untuk mengubah petani, guru, petani, atau bahkan seorang remaja menjadi mesin pembunuh yang efektif," tulis Larry Kahaner dalam bukunya AK - 47: Senjata yang Mengubah Wajah Perang.
"Banyak ahli militer Barat menganggapnya (AK-47) sebagai bagian dari sampah," tulis Kahaner. Namun, dia melanjutkan, "Beberapa tentara Amerika Serikat lebih memilih AK, terutama di Irak dengan debu yang cenderung memacetkan senapan M-16 mereka, tetapi tidak memengaruhi AK."
Data resmi menyebutkan AK-47 beredar di 55 negara di dunia. Beberapa simbol resmi negara, bahkan nama anak laki-laki di dunia, memasukkan unsur Kalash di dalamnya.
Namun, pada 1947, rancangan Kalashnikov dipilih otoritas militer Uni Soviet dan didukung oleh perancang senjata yang semula meremehkannya. Dengan kesederhanaannya, senjata ini dinilai andal di medan perang.
"Jadi, ini sudah moto hidup saya, (senjata) yang sederhana dan dapat diandalkan," kata Kalashnikov suatu ketika. Diperkirakan 100 juta AK-47 beredar di dunia, dengan setengah di antaranya adalah barang bajakan.
"Senapan kuat ini ... adalah cara tercepat, termudah, dan termurah untuk mengubah petani, guru, petani, atau bahkan seorang remaja menjadi mesin pembunuh yang efektif," tulis Larry Kahaner dalam bukunya AK - 47: Senjata yang Mengubah Wajah Perang.
"Banyak ahli militer Barat menganggapnya (AK-47) sebagai bagian dari sampah," tulis Kahaner. Namun, dia melanjutkan, "Beberapa tentara Amerika Serikat lebih memilih AK, terutama di Irak dengan debu yang cenderung memacetkan senapan M-16 mereka, tetapi tidak memengaruhi AK."
Data resmi menyebutkan AK-47 beredar di 55 negara di dunia. Beberapa simbol resmi negara, bahkan nama anak laki-laki di dunia, memasukkan unsur Kalash di dalamnya.